Cerpen Meja Makan

Suara jangkrik berdering di sekeliling rumah. Hiduplah keluarga hangat di gubuk kecil yang tidak jauh dari desa, tetapi dikelilingi hutan-hutan.

Ibu dan dua orang anak laki-laki tinggal dan saling melengkapi satu sama lain

Malam bulan purnama menambah suasana hangat didalamnya.

“Lagi masak apa Bu?, aromanya enak sekali” ujar tariq si sulung

“Tadi ibu dapat sisa tulangan dari tetangga. Jadi ibu buat saja sup tulang, ala-ala sup kondro gitu”

“Uuuu makin ngga sabar mau makan, aku siapin piring sama sendok yaaa.” Sahut Riza yang masih kecil. “Ahhh bisa aja kamu, jangan rakus ye.” Goda si Abang.

Aroma menyengat dan kental nya kuah kaldu di ikuti suara blubug… blubug… menandakan sup siap untuk di sajikan

“Riq, Udah jadi ini sup nya, tolong angkatin ya. Bawa ke meja makan. Pakai mangkuk yang ini biar ngga panas.” memberikan mangkuk plastik bening dari rak piring.

“Oke Mak”

“Ibu mau mandi dulu sebentar, kalau kalian lapar makan duluan saja nak”

“Bareng aja mak, sebentar aku mau buat teh manis biar komplit” ujar kakak.

“Iyyya, biar barengan” tambah Riza. “Kan kalo rame-rame lebih asik”. Ujarnya lagi sembari menyusun persiapan di meja makan.

“Ya udah tungguin bentar yaa” Bersiap-siap menuju WC dan mengambil handuk.

Menanti ibu bebersih diri membuat nostalgia keluarga ini kembali terasa. Tariq yang baru pulang dari perantauan untuk mencari pekerjaan dan si bungsu yang kini makin bertumbuh juga sudah pandai berbicara. Walaupun kami berkumpul di meja makan tidak selengkap saat ada bapak, suasana ini lah yang paling dirindukan oleh perantau. Aku menyesal dan hanya bisa menangis di kos-kosan ku kala itu, karena disaat kepergian bapak aku tidak bisa pulang kerumah.

“Kak lagi bengongin apa si?” Tatap adik dengan serius.

“Ngga kok cuma ngantuk aja, oh ya gimana game puzzle kemarin, udah selesai belum?”

“Itu mah ez banget, cuma 1 jam udah selesai, beliin yang susah dong.”

Riza sangat menyukai berbagai jenis permainan puzzle satu diantaranya adalah puzzle jigsaw, ya cocok lah untuk seumuran anak SMP. Lantaran mereka ngobrol, dari pintu ruang kamar terdengar engsel pintu yang sudah karatan berbunyi dan terlihat ibu berjalan menuju ruang makan

“Ayo nak makan, hari ini kita nikmati yang ada”. Ucap ibu Rati pada anak-anak nya. Ia mengambil kan nasi untuk kedua pria yang dicintai dan meletakkannya langsung di piring-piring yang telah di sediakan.

“Ini mah banyak kali Mak, bisa gendut aku” ujar Riza. “Nah, tambah lagi, kapan lagi coba kita makan sup tulang. Mumpung ada” timpal ibu.

“Iya za, soalnya kamu kan tukang makan. Ntar juga habis deluan tuh lauk dari pada nasinya. Hehe”

Meja makan yang dulu terasa sunyi kini kembali terang. Kerinduan ibu pada anak-anak nya tersalurkan kembali melalu meja makan berbentuk segi panjang dengan empat kursi yang saling berhadapan. Mereka yakin Satu kursi yang kosong telah diisi oleh kehadiran ayahnya yang tak nampak.

Ibu menatap Tariq dengan rasa penasaran “Gimana kak sudah dapat kerja?”

“Belum buu, sudah hampir 2 tahun aku disana, tapi belum dapat profesi pasti.”

“Kamu disana ngga papa kan nak?”

Seketika bulu kuduknya merinding mendengar ucapan itu.

“Eh-ngga papa Mak, maaf ya aku belum bisa kasih uang, kirim uang kayak anak-anak lain yang bisa ngasih kehidupan buat orang tuanya” Kata ku, menahan malu.

“Kamu ngomong apa sih nak?, ibu sudah senang kok kalo ngeliat kamu senang, kamu baik-baik saja, kamu ngga pernah menyerah sama yang kamu perjuangkan. Ibu percaya pria kecil pemberani ibu pasti berhasil”

Ucapan ibunya adalah penyemangat yang selalu membuat tariq mampu bertahan di keras nya tanah perantauan.

“Iya kak, kakak bisa datang sja aku senang kok. Apalagi kalo kalo datangnya bawa mainan puzzle”. Balas Riza dengan sumringah, karena dia telah menemukan sosok kakak terbaik dalam hidupnya.

“Bisa aja kamu, bilang aja pengen dibeliin mainan lagi huh” lantas riza pun mebalas dengan nada kesal “Ya udah terserah kakak deh kalo ngga percayaan”

“Kalian ini ya kalau ketemu ngga pernah yang namanya ga berantem” sela ibu Rati melihat keduanya penuh kelucuan.

Tariq menimang-nimang sebuah pertanyaan yang ingin diajukan pada ibunya, sesaat hamparan angin sejuk menenangkan hati kecilnya dan memutuskan lisan nya mengeluarkan seuntai pertanyaan setelah mengumpulkan keberanian seluruh alam.

“Bu kalau nanti aku belum jadi apa-apa, belum bisa banggain ibu, belum bisa buat ibu senang, apakah ibu masih Sayang sama aku? Masih kah ibu menganggap diri ini anak kecilnya ibu?”

“Nakk kamu ngomong apasih, sudah sepatutnya ibu menyangimu, ibu hanya mengharapkan mu tumbuh menjadi anak yang baik. Hanya ingin melihatmu tumbuh menjadi pria yang baik. Aku cuma ingin kamu berbuat baik, tidak lebih nakk. Kamu… adalah karunia terbaik yang aku syukuri percayalah ”

Riza terdiam dan menatap kosong pada ibu nya.

“Bu, Terimakasih yaa jadi ibuku” Ujarnya penuh kelegaan, seperti beban berat itu telah lepas darinya.

Mereka pun melanjutkan makan dengan perbincangan yang melepas rindu.

Selesai……

Cerpen Meja Makan Cerpen Meja Makan Reviewed by Halim R on Januari 04, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.