Ga Papa Kok, Kalau yang Lain Lebih Dulu

Memang lagi gini aja prosesnya, berat sih tapiii masa iya gua ngeluh. Masa iya gua ga mau dapat gelar dr. dan punya klinik sendiri. Masa iya gua ga mau menolong mereka yang kesakitan dan menunggu lama karena dokternya lagi ga ada. Gua ngerasa impian ini bukan ada karena ego dan sekedar pembuktian kepada orang lain.

Lebih dari itu, gua bisa ngobrol ke pasien, ngasih tau kalo ini itu buruk atau tidak, ngobati orang disekitar yang benar-benar butuh bantuan dan bisa memahami dunia kesehatan  adalah hal yang sangat menyenangkan. Bagaimana orang bisa sakit? gimana cara nyembuhinya? apa penyebabnya? apa penanganannya? apa pengaruhnya? semua itu menarik sekali untuk dipelajari.

Mungkin rumor gua ikut UTBK sudah kesebar diteman-teman kuliah dan tentu ini menjadi tekanan tersendiri buat aku kalau ga lulus gimana ya nanti pandangan mereka?. Sipaling idealis lah, si paling cari muka lah, si paling banyak gaya lah, sok ikut-ikutan lah, si ga punya hati nurani lah, si paling egois lah, si ini dan itu Lah.

Intinya gua ga peduli dengan semua pikiran orang-orang itu, mungkin akan terasa nyelekit. Walaupun sebenarnya ga ada yang ngomong demikian, melainkan hanya hasil dari bayang-bayang pikiran yang ga bisa gua kendaliin. Gua cuma ingin memperjuangkan hal yang sudah gua impikan sejak kecil, setidaknya sebelum gua mati. 

Gua akan tetap bangga dengan diri gua sendiri karena sudah berani untuk mengambil keputusan yang terlalu egois ini. Akan tetapi, setidaknya gua ga akan nyesel karena sudah mencoba habis-habisan untuk menggapai itu. Kalau saja gua sadar ini amat penting mungkin gua persiapkan dari dulu. Ternyata gua aja yang menganggap remeh segalanya.

Teruntuk kedua orang tua emak dan bapak yang teramat aku cintai, maaflan anak mu ini ya belum bisa bertanggungjawab terhadap fasilitas dan kesempatan belajar yang kalian berikan untuk aku mengejar impianku. Jujur aku bukannya melupakan hal itu, tapi aku yang bodoh dan terlalu mengasihani diriku dengan rasa takut dan lupa pada tujuanku.

Dan mungkin kalian menjadi orang yang paling terlibat didalam kegoisanku ini, tetapi jujur aku ga minta apa-apa kok aku cuma ingin bisa dibebaskan untuk memilih dan mengejar impianku. Walaupun si emak, suka nawarin buat masuk kedinasan gara-gara kebelet liat anak tetangga atau teman yang udah pada berhasil melalui jalur kedinasan.

Teruntuk si bapak maaf kan anak mu ini, yang belum bisa menjadi pria yang bertanggung jawab. Aku memang anak yang ga tau diri, semau-maunya aja, dan ga pedulian. Namun, aku akan belajar menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih peduli pada keluarga kita.

Teruntuk diriku jangan malas-malasan ya, masih ada satu nyawa tersisa dan lu harus ngeluarin sebagian besar fokus dan usaha untuk lo arahin ke UTBK yang akan datang.

Teruntuk teman-teman ku mungkin aku ga terlalu banyak cerita soal ini ke kalian karena aku ga mau jadiin kalian sebagai pelampiasan keluh kesah ku. Aku akan selalu tampil tersenyum dan kalau kamu membaca ini tolong doannya agar aku bisa dipanggil dr. Lim suatu hari nanti. Walaupun, kalian udah  pada sukses, jadi dokter, tentara, ekonom, perawat, dosen, guru, dan banyak lagi. Kalian memang orang hebat dan aku percaya setiap dari kita punya gilirannya masing-masing.

Satu lagi, jangan kasihani kelurga kami. Aku dan keluargaku adalah orang yang berani bermimpi besar. Mereka ingin anak-anaknya bisa melampui mereka. Jadi, daripada mikirin yang engga-engga coba deh positive thingking kepada siapapun.


Ga Papa Kok, Kalau yang Lain Lebih Dulu Ga Papa Kok, Kalau yang Lain Lebih Dulu Reviewed by Halim R on April 14, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.