Mampir Sejenak di Yogyakarta

Berkeliling dan menjelajahi Kota Yogyakarta adalah momen yang akan selalu teringat oleh para wisatawan, entah apa yang membuatnya istimewa, tetapi kerinduan ini ingin membawaku kembali ke sana lagi. Setelah tiba di stasiun Jogja, ayahkupun menyewa mobil berjenis avanza yang digunakan untuk menikmati suasana sore hari disana. Destinasi pertama yang dikunjungi adalah Candi Prambanan. Kami pun langsung menancap gas dari stasiun.

Aku melihat dari dalam mobil tampak siluet candi prambanan "Candinya begitu megah, dari kejauhan pun membawa kesan kerajaan yang kuat" ujar ku sembari melihat atap-atap candi ketika di perjalanan. Lantas sesampainya di candi prambanan aku begitu gembira dan takjub dengan keindahannya. Baru masuk saja kita akan melewati sebuah taman mini dengan air mancur disertai nama tempat bertuliskan PRAMBANAN. Para pengungjung umumnya akan bersua foto untuk mengabadikan saat-saat itu.

"Jadi ini kah yang dibilang legenda candi seribu itu?" Tanya adikku. Sembari kami berjalan menuju candi-candi utama. Saat itu aku tidak tau harus menjawab apa dan hanya mengangguk "Iya, mungkin benar".

Di dalam komplek candi prambanan, ada cukup banyak candi dan patung-patung yang dapat disususuri, dikarenakan waktu semakin sore membuat kami melewati beberapa spot yang ada dan hanya memasuki candi utama seperti Candi Siwa, Candi Wisnu, Candi brahmana, dan beberapa patung dewa lainnya. Terdapat patung yang sudah mengalami kerusakan sehingga butuh pembenahan. Tempat ini begitu indah dan kali pertamanya aku berkunjung di salah satu peningalan candi hindu di Indonesia.

Sebelum menuju pintu keluar dari candi utama kami menyewa mobil listrik sejenis buggy car untuk kembali ke parkiran. 

"Nanti ini sekalian mampir di candi sewu kan mas?" Tanya Pak Alex [Ayahku]

"Enggeh pak, dari sini lanjut ke candi sewu. Boleh turun dan ambil foto 15-20 menit setelahnya ngumpul lagi." kata supir itu. Pada komplek candi prambanan, ada candi lainnya seperti Candi Lumbung, Bubrah dan Sewu. Selain itu, kompleks ini juga mencakup Candi Parawara. Luasnya kompleks candi ini tidak akan membuat pengunjung  mudah merasa bosan, ditambah lagi fasilitas lainnya yang juga cukup memadai.

Setibanya di Candi Sewu, aku pun turun dari buggy, kemudian aku merasa kagum dengan kumpulan candi yang ada. Bentuk dan corak kuno dari sisa candi masih dapat dilihat, memang ada beberapa yang telah rusak, tetapi kesan yang diberikan seperti membawaku ke nuansa kerajaan zaman dulu. Selain itu, aku tidak lupa untuk meminta seseorang memotret momen ini. Kami pun sebaik mungkin memanfaatkan waktu yang diberikan  untuk mencari angle foto yang sesuai.

Berdasarkan beberapa sumber informsi, Candi sewu merupakan candi yang terletak di dalam komplek Taman Candi Prambanan, berbeda dengan sebelumnya yang merupakan kelompok percandian Hindu yang dibangun oleh raja-raja pada Dinasti sanjaya abad ke-IX. Dimana hal tersebut dapat dibuktikan dari tulisan nama "Pikatan" yang menimbulkan pendapat bahwa candi tersebut di bangun oleh Rakai Pikatan dan diselesaikan oleh Rakai Balitung atau nama lainnya Rakai Kayuwangi berdasarkan prasasti  tahun 856 M, yakni "Prasasti Siwag Grha".

Lantas apa hubungan nya Rakai Pikatan dan Roro Jonggrang dengan Candi sewu? 

Candi sewu atau yang dikenal candi Roro Jonggrang, merupakan candi Budha yang dibangun oleh rakai pikatan karena ia menikahi seorang putri beragama Buddha dari dinasti syailendra. Dalam sejarah, Rakai pikatan adalah seorang raja yang membangun candi sewu dengan begitu megah dan indah. Akan tetapi dalam legenda, Roro Jonggrang adalah bagian dari cerita rakyat turun-temurun yang melekat pada candi sewu dan dibangun sebagai bukti cinta Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang karena diminta untuk membangun seribu candi hanya dalam kurun waktu satu malam yang menjadi syarat mutlak bagi dirinya agar bisa menikahi wanita yang dicintainya. Keduanya memiliki perbedaan yang sering kali membingungkan masyarakat. 

Kompleks candi sewu terdapat 240 berbagai candi kecil yang dibangun untuk mengelilingi candi-candi utama. 

"Sayang banget, beberapa candi kecil sudah rusak tergerus oleh alam, kalau saja ini masih berdiri pasti akan megah dan semakin bagus buat dijadikan salah satu tempat wisata terbaik" Gumamku.

Langit biru perlahan menggelap dan maghrib pun tiba, mencari penginapan adalah rencana selanjutnya. Setelah berkeliling sepanjang sore, kami akhirnya memutuskan untuk menginap di salah satu hotel yang dekat dengan jalan malioboro, supaya nantinya bisa menikmati keistimewaan suasana malam di Yogyakarta

Suara tapak kuda lalu lalang di sepanjang jalan dan ramainya nya manusia menikmati keindahan Malioboro yang tak pernah sepih. Malam itu aku berada di salah satu penginapan yang terletak tidak jauh dari wisata terpopuler di DIY. Berada di salah satu gang yang secara langsung mengarah pada Jl. Malioboro.

Ayah ku pergi mencari makan disekitar penginapan sedangkan aku, ibu, dan adikku si Afgan yang tingginya sekarang melibihi diriku, kami bertiga berberes dan beristirahat sejenak sambil menunggu waktu Isya. 

Aku duduk sambil menyantap beberapa snack di balkon losmen sambil melihat ke bawah dan semakin malam begitu banyak orang berjalan keluar melewati gang penginapan menuju Jl. Malioboro. Terlintas pertanyaan di kepalaku, kenapa tempat itu dikenal dengan malioboro?. 

Tiba-tiba saja, sebuah telepon Whatsapp mendadak masuk dari seseorang. Nama bertuliskan "Bapakku" muncul dari deringan HP di meja sebelah. "Halo pak, ada apa?" Ujarku, "Mamak sama adikmu lagi ngapain?" "Ngga tau mungkin lagi nyantai, ini aku lagi di teras atas" Balasku. "Kalau lapar, turun ya di depan hotel nanti ada gang, terus masuk aja".

"Woke, pak" dari atas aku bisa melihat gang kecil yang dimaksud ayahku.

"Bapak tunggu jangan lama-lama" Panggilan pun berakhir.

Aku langsung mengangkat tubuh ini dari kursi dan bergegas menuju kamar dan melewati beberapa kamar yang sama dengan nomor pintu berbeda.  

Melihat ibu dan adikku sedang bersantai di ruang 4x5 meter, lantas dirikupun memberitahu mereka persis seperti pembicaraan yang telah belalu beberapa saat tadi. Lalu bersiap dengan mengganti pakaian gaya kasual ala-ala anak muda.

Gemerlap nya malam dan kehangatan pedagang gerobak disertai nampan yang dipenuhi makanan pinggiran semakin menambah cinta ku pada Yogyakarta.

Di dalam gang yang awalnya ku kira sepi ternyata ada beberapa orang berkumpul di angkringan tersebut. Bertukar cerita ditemani segelas kopi. Sebuah grobak berisikan ragam jajanan tusuk-tusuk seperti sate usus, telur puyuh, ati, ampela, sosis dan masih banyak lagi. Tidak hanya itu, makanan tradisional seperti nasi kucing dan beberapa olahan bacem dari tahu sampai sayap ayam baik pedas maupun manis juga ada. Bahkan, nasi bugkus juga punya varian isi yang tak kalah menarik.

Setelah Ibu dan adikku memesan menu pilihan mereka, disusul aku yang kemudian mengorder makanannya.

"Bu saya ambil nasi kucing satu, hati nya dua, bacemnya satu, sama sayap ayam dua ya" Ujarku pada ibu penjual yang terlihat sedang merapikan dagangan. "Nggeh mas, minum nya mau apa?'

"Teh hangat aja bu" Balasku. "Di tunggu sek yo mas" tuturnya. Pesanan ku pun datang, lantas kami menikmati makan malam sederhana di gang kecil Malioboro Jogjakarta. 

Hidangan dan nuansa di gang kecil itu membuatku tidak akan pernah melupakannya.

"UAHH, Kenyang nya, baru tu murah lagi. Teh nya juga enak!" Seru ku dengan tangan mengusap-usap perut. "Betul kak, pengen tambah lagi rasanya" ujar adikku.

"Nanti aja lagi, ayo keliling malioboro. Kebanyakan makan ntar ngga bisa jalan lo" Ibuku ikut menyaut. "Ayolah" Jawab ayahku sambil meletakkan hp disaku dan siap membayar. "Pak Mak aku duluan ya sama Afgan" Niatku biar bisa keliling sana-sini.

"Pergi aja sana, nanti telpon ya kalo ada apa-apa!" Ucap ibu ku.

"Siappp"

Aku dan adikku pun langsung berjalan menuju keluar gang dan menelusuri trotoar sembari merasakan hiruk pikuknya malioboro . Andong dan becak kesana kemari membawa penumpang dari lokal maupun manca negara. Di sepanjang jalan kursi-kursi umum telah banyak dipenuhi.  Kami melewati salah satu toko ice cream Malio Gelato dengan orang-orang yang mengantri. Walaupun begitu, tak bosan-bosan nya jika aku kemari dan melewati jalan ini. Kalau saja bukan musim liburan, mungkin menikmati kesendirian malam di malioboro adalah hal yang akan sering aku lakukan.

"Dek, ayoo kita ke Titik Nol Kilometer , tempatnya cukup ikonik sayang kalo kita ngga pergi ke sana."

"Ayokla" kamipun bertolak menuju arah selatan dari Malio Gelato. 

Pukul 22.00 WIB Jalan mulai terasa lenggang, para wisatawan mungkin sudah puas kesana-keamri dan memilih kembali ke penginapan. Kendaraan perlahan juga mulai renggang, Klotak-klotak.... hhrrff... tek... tek... tek... suara tapak kaki kuda dan tuan kusir bersliweran kembali pulang.

Aku dan Afgan melewati berbagai gerai dan lapak yang menjual beragam batik dan oleh-oleh Jogja. Satu hal yang tak luput dari ku adalah membeli souvenir sebagai bukti aku pernah kemari. Sedari keychain yang bertuliskan I Love Jogja, Gambar Tugu Yogyakarta, lalu yang membuatku tertarik ialah membeli gantungan kunci berlukiskan para tokoh wewayangan. 

"Ini isi nya berapa ya pak?"

"Satu bungkusnya ada 15 pcs dek, untuk harganya 20rb per bungkus"

"Pak saya ambil satu bungkus gantungan kunci yang ini ya" sementara si bapak masih sibuk dengan uang yang dihitung nya. 

"Ini ya dek gantungan nya" ujar nya, "Oke pak, makasih yaa". Setelahnya, kami bertolak untuk malanjutkan perjalanan menuju ke titik nol Yogyakarta.

Dari kejauhan, aku melihat zona foto yang popular oleh para pengunjung, yaitu papan nama berdiri tegak dan bertuliskan Jl. Malioboro. Tentu saja, aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini, dimana biasanya keadaan di sana begitu padat.

"Dek cepat buruan fotoin kakak, keburu ramai" Titahku pada pria yg umurnya 14 tahun itu. 

"1..2...3... Jepret" 

Jalan menuju titik nol sudah begitu dekat. Kawasan tersebut menghubungkan empat ruas jalan besar.  Selain itu, banyak bangunan bergaya kolonial khas peninggalan Belanda di perempatan jalan. Seperti, Gedung BI, benteng Vredeburg, dan banyak lainnya yang masih berdiri kokoh hingga kini. Kondisi malam hari di perempatan jalan, menambah kesan estetik untuk merasakan keelokan Yogyakarta. Di tempat ini orang-orang duduk bersama dan saling mengobrol satu dengan yang lain, ada juga yang sekedar duduk menyendiri untuk melepas penat. 

Selepas merasa puas, Adikku dan aku berencana kembali ke hotel. Dalam perjalanan, aku tidak sengaja melihat seorang senimansedang menggambar objek secara langsung yang diminta oleh pelanggan. Seniman ini duduk di tepian malioboro dan menikmati proses menggambar dengan sangat santai. Seniman ini hanya memerlukan pensil dan beberapa alat lainnya untuk bisa menggambarkan wajah atau bangunan sebagai objek gambar. Umumnya jarang ada seniman yang langsung menggambar secara real time Hal ini membuatku menyadari bahwa dikehidupan ini setiap orang memiliki caranya sendiri dalam menjalani kehdiupannya.













Mampir Sejenak di Yogyakarta Mampir Sejenak di Yogyakarta Reviewed by Halim R on Maret 13, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.